Bisakah mendidik anak yang sundulan?

Senang itu, ketika engkau melihat anak-anakmu sedang akur bermain, tersenyum bersama, belajar bersama, makan pun bersama-sama. Nikmatnya…

 dan

 saat itu, dunia dan isinya pun serasa sudah kupunya.

 

Usia 3-4 tahun menurut kebanyakan orang adalah usia yang ideal bagi anak untuk mempunyai adik. Hal ini dikarenakan pada rentang usia ini kehadiran adik akan disambut dengan baik oleh kakak. Kakak selama 3 – 4 tahun telah cukup membangun fondasi bonding dengan orang tua. Ia tidak merasa terancam dengan hadirnya adik. Kakak bisa menempatkan diri sebagai pembimbing adik yang baik. Kakak pula bisa menjadi pembantu yang paling handal jika dimintai tolong untuk adiknya.

Namun, bagaimana jika Allah berkehendak lain dan kakak mendapatkan adik pada rentang umur yang cukup berdekatan? Orang jawa menyebutnyan “sundulan”. Kebanyakan  orang tua takut karena tidak sanggup mendidik dua buah hatinya dengan didikan yang cukup baik. Takut akan perhatian dan kesabarannya yang terbatas. Takut jika ia gagal dalam menjadi orang tua yang ideal. Takut akan biaya pendidikan yang akan dikeluarkan. Takut jika anak-anak ini sering bertengkar dan masih banyak ketakutan-ketakutan lainnya.

  1. Anak, Sebuah Nikmat Besar

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS.Ibrahim :7)

Dan nikmat yang paling agung dalam kehidupan ini adalah dikaruniai anak. Memiliki anak merupakan karunia dan hadiah dari Allah.  Allah berfirman :

 

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dia menciptakan apa yang dia kehendaki. dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang dia kehendaki,. Atau dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan dia menjadikan mandul siapa yang dia kehendaki. Sesungguhnya dia Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.(QS. Asy-Syuura : 49-50)

Ayolah, jangan terlalu memikirkan ketakutan-ketakutan itu. Tetapkan tujuan,agar kakak dan adik menjadi anak-anak yang sholih, anak-anak yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan anak-anak yang berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Dan ini adalah tujuan mulia dari mempunyai anak menurut syari’at islam.

  1. Allah Maha Pengasih dan Penyayang

Allah mengetahui kemampuan hambanya. Dan Ia tidak akan memberi ujian diluar batas kemampuan seorang hamba.

Ÿ“Allah tidak membebani manusia kecuali sesuai kemampuannya” (QS. Al Baqarah: 286)

Ingatlah, bahwasanya Allah menciptakan segala sesuatu tentu mengandung hikmah yang agung dan tidak dalam rangka kesia-siaan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,

Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu Karena mereka akan masuk neraka. (Ash-Shood: 27).

Untuk itu hendaknya selalu berhusnuzhon (berprasangka baik) terhadap segala sesuatu yang telah Allah tetapkan kepada para hamba-Nya agar termasuk orang-orang yang beruntung.

  1. Allah Maha Pemberi Rezeki

Sebagian orang tua takut saat anaknya lahir dalam jarak yang berdekatan. Mereka takut akan persoalan biaya untuk anak-anaknya. Mereka takut tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup dan pendidikan serta kebutuhan yang lainnya. Namun, Janganlah engkau takut dan bimbang. Karena masalah rezeki itu sudah ditulis Allah sebelum manusia diciptakan, bahkan rezeki binatang melata pun telah Allah tetapkan.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberikan rezekinya” .  (QS. Hud :6)

Allah azza wa jalla telah menulis takdir bagi makhluk-makhluknya  50000 tahun sebelum menciptakan lagit dan bumi. Allah menciptakan rezeki tersebut dan menyampaikannya kepada makhluk sesuai dengan waktu yang sudah Allah tentukan sebelumnya dan tidak akan meninggal seseorang sampai dia mendapatkan rezeki yang terakhir meskipun rezeki tersebut ada di puncak gunung ataupun berada di bawah lautan.

Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda

لَا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَكُنْ عَبْدٌ لِيَمُوْتَ حَتَّى يَبْلُغَ آخِرُ رِزْقٍ هُوَ لَهُ، فَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ: أَخْذِ الْحَلَالِ وَ تَرْكِ الْحَرَامِ

“Janganlah merasa rezeki kalian lambat, karena sesungguhnya tidak ada seorang hamba pun yang mati sehingga telah datang padanya rezeki terakhir yang ditentukan baginya. Karenanya, bertakwalah kalian kepada Allah subhanahu wa ta’alaa dan carilah cara yang baik dalam mencari rezeki, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. al-Baihaqi, Ibnu Hibban, dan lain-lain; dishahihkan al-Albani dalam Silsilah Ahadits ash-Shahihah: 2607)

Rasulullah bersabda :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : سَأَلْتُ أَوْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الذَّنْبِ عِنْدَ اللَّهِ أَكْبَرُ؟ قَالَ : أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدَّا وَهُوَ خَلَقَكَ، قُلْتُ ثُمَّ أَيِّ؟، قَالَ : ثُمَّ اَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشيَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ، قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ : أَنْ تُزَانِيَ بِحَلِيلَةَ جَارِكَ

“Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata : Aku bertanya atau ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah dosa yang paling besar di sisi Allah?” Jawab beliau, “Engkau menjadikan bagi Allah tandingan (sekutu) padahal Dia yang menciptakan kamu” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Jawab beliau, “Engkau membunuh anakmu lantaran takut makan bersamamu” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Jawab beliau, “Engkau berzina dengan istri tetanggamu”[Shahih Riwayat Bukhari 6/14 dan Muslim 1/63 : 64]

  1. Lalu, bagaimana cara mendidik mereka?

“Buy one get one more free”, inilah salah satu semboyan dalam mendidik anak “sundulan”. Mendidik kakak dengan baik, insyaa Allah akan mendapatkan adik yang baik pula. Karena pada dasarnya kakak yang baik akan menjadi teman baik dan sebagai sosok teladan yang akan ditiru oleh adik hingga menjadi adik yang baik.

Permasalahannya sekarang adalah bagaimana mendidik kakak hingga kakak menjadi baik?  Berikut ini beberapa hal utama terkait pentingnya mendidik anak “sundulan”.

  1. Keikhlasan

Agar kakak mempunyai sikap yang baik, orang tua harus mempunyai sikap yang baik pula. Dan mengubah sikap orang tua menjadi baik tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, diperlukan keikhlasan di dalamnya. Karena ikhlas akan membuat sesuatu yang kelihatannya berat akan terasa begitu ringan. Ikhlas akan membuat capeknya badan hilang seketika. Ikhlas jugalah yang akan membuat amarah sedikit demi sedikit terpadamkan. Dan ikhlas pula lah yang dapat membuahkan pahala, yang berujung kepada berkumpulnya orang tua dan anak-anak di negeri keabadian, surga Allah yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan.  Allah berfirman dalam surat At-Thur:21:

Artinya: Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan pertemukan mereka dengan anak cucu mereka dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.

Mendidik mereka dengan keikhlasan membuat hati kita terpaut dengan hati mereka. Membuat mereka mendengarkan segala ucapan yang kita tuangkan, membuat mereka mengerti akan arti tatapan mata kita, dan tentu membuat mereka mudah diatur.

Oleh karena itu, jangan remehkan poin ini. Selalu koreksi hati kita saat amarah datang dan kondisi memanas. Siramlah dengan keikhlasan, tenangkan diri dan berwudhulah. Hadapi mereka dengan senyuman karena sesungguhnya ikhlas itu manis.

  1. Komunikasi yang Produktif

Selain keikhlasan, poin lain yang tidak kalah penting adalah komunikasi. Komunikasi merupakan jembatan untuk menyampaikan pesan kepada anak. Ia adalah alat agar anak paham apa yang orang tua inginkan. Namun, hendaknya cara penyampaiannya tidak sembarangan. Harus yang produktif. Sehingga pesan dapat tersampaikan secara utuh tanpa ada miss com (kesalahpahaman).

Komunikasi produktif ini salah satunya berguna agar orang tua dapat membangun pengertian kakak akan kehadiran adik yang masih kecil. Cara orang tua dalam memahamkan ini yang harus betul-betul diperhatikan, jangan sampai kakak merasa dinomorduakan karena adanya adik.

Pahami perasaan kakak dalam berbagai macam situasi, suasana hatinya, keadaannya, kondisi fisiknya, hingga akhirnya orang tua tidak salah dalam membuat komentar. Karena jika orang tua tidak dapat memahami, komentar yang salah bisa berakibat tidak baik.  Misalnya saja kakak sedang capek, sedang lapar, sedang tidak enak badan, kesal dengan temannya,dll. Kakak akan cenderung lebih sensitif pada saat-saat seperti itu. kakak bisa jadi kesal, ngambek, marah-marah cuma karena komentar singkat yang sepele dari orang tua.

Saat kakak sedang ceria dan senang, hampirilah ia, peluklah dia, belai kepalanya, dan cium keningnya seraya berkata “ kakak sudah besar, tandanya Allah memberi kakak adik. Adik sayang kakak, kakak juga sayang adik. Ummi sayang kakak dan sayang adik. Allah sayang ummi, kakak dan juga adik” Minta kakak mengecup lembut adik, membelai kepalanya dan memberi adik kejutan-kejutan kecil.

Indahnya..

  1. Teladan, pendidikan paling efektif

Lakukanlah apa yang ingin kakak lakukan. Jika orang tua ingin kakak menyayangi adik,maka sayangilah adik. Jika orang tua ingin kakak bersedia minta maaf kepada adik saat melakukan kesalahan, mintalah maaf kepada kakak saat orang tua melakukan kesalahan. Kakak tidak akan segan minta maaf kepada adik karena telah dicontohkan oleh orang tua. Jika orang tua ingin kakak tidak berebut mainan dengan adik maka ajak ia main bersama dan bilang padanya jika adik ingin pinjam mainan kakak. Kakak yang baik tentu akan meminjami adiknya. Sekali lagi, puji dan berterima kasihlah pada kakak, karena berhasil meminjami adik dan menjadi kakak yang baik.

Allah Ta’ala berfirman :

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (Ash Shaaf 2-3)

  1. Libatkan Kakak dalam Mengasuh Adik

Libatkan kakak dalam mengganti popok adik, memijat adik dengan minyak telon, memakaikan baju adik, mengambilkan handuk adik, memandikan adik dan memberi sabun kepadanya. Beri kakak pujian dan ucapkan terima kasih atas bantuan kakak dalam mengasuh adik. Pujialah ia, katakan kepadanya bahwa ia adalah kakak yang sangat baik.

Buat kakak merasa penting akan kehadiran adik. Jika adik sedang menangis, panggil kakak minta ia melihat adik dan mencari tahu sebab apa yang membuat adik menangis.

Begitupula saat makan. Kebanyakan orang akan menggendong adik dan menyuapi kakak di situasi yang berbeda. Coba ubah situasinya. Abi, ummi, kakak dan adik duduk bersama untuk menikmati makanan dalam satu piring. Ya, makan berjamaa’ah. Tak lupa membaca bismillah, minta kakak menyuapi adik sedikit demi sedikit dari makanan yang sudah disediakan khusus untuk adik. Lihatlah ekspresi mereka, akan sangat menyenangkan walaupun tempat makan akan berantakan dan perlu kerja sedikit keras untuk membersihkannya.

  1. Kakak Masih Iri?

Jika kondisi-kondisi diatas sudah diterapkan dan kenyataannya kakak masih iri terhadap adik,itu adalah kondisi yang sangat wajar. Mungkin Ia masih belum merasa cukup akan kasih sayang yang orang tua berikan. Atau mungkin Ia mengingnkan sesuatu namun ia tidak bisa mengungkapkannya.

Pandanglah kakak sebagai seorang anak yang memang masih membutuhkan belaian kasih sayang orang tua. Ingatlah, ia hanya batita yang baru berumur 2 tahun. Dan batita ini masih sangat memerlukan anda.  Bersabarlah.

Allah ta’ala berfirman :

Artinya: Katakanlah, ‘Wahai hamba-hambaKu yang beriman, bertakwalah kepada Rabb-mu’. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”(Q.S az-Zumār:10)

Bersabarlah, karena sesungguhnya sabar itu akan membuahkan hasil yang indah. Pepatah Arab mengatakan “ Sabar bagaikan buah brotowali, pahit rasanya, namun kesudahannya lebih manis daripada madu.”

Bersabarlah akan kelakuan mereka, tunggulah pahala yang akan menanti. Sabar dalam mendidik anak memang terasa berat di awal, namun tunggulah buah manisnya kelak di dunia dan diakhirat. Di dunia mereka akan menjadi anak-anak yang menurut kepada orang tuanya insyaa Allah. Dan manakala di akhirat mereka akan terus mendoakan orang tua hingga curahan pahala terus mengalir deras.

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil”.

 

 

Maraji’

  1. http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/janganlah-berburuk-sangka-kepada-allah.html diakses tgl 22 feb 2014
  2. http://muslim.or.id/tafsir/tafsir-surat-al-baqarah-185.html diakses tgl 22 feb 2014
  3. http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Psikologi/jarak.usia.kakak.dan.adik/001/007/722/343/10+cara+agar+balita+cinta+buku/4 diakses tgl 22 feb 2014
  4. http://abiubaidah.com/mencari-kunci-rezeki-di-saat-krisis-ekonomi.html/ diakses tgl 23 feb 2014
  5. Alimah Niken,dkk. (2013). Bunda Sayang 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak. Jakarta.Halaman Moeka.
  6.  http://www.firanda.com/index.php/artikel/keluarga/246-ternyata-mencium-anak-anak-mendatangkan-rahmat-allah- diakses tgl 1 maret 2014
  7. Choiriyah U.I dan Al-atsari A.I.(2010).Mencetak Generasi Rabbani!. Bogor: Pustaka Darul Ilmi.
  8. Al-‘Adawi M, (2009). Anakku Sudah Tepatkah Pendidikannya?. Pustaka Ibnu Katsir
  9. Zein Abdullah,(2011). Jurus Jitu Mendidik Anak. Yogyakarta: Yufid.com
  10. Rekaman kajian Ustadz Abdullah Roy Silsilah Ilmiyah Tauhid 2 dengan judul  Allah Pemberi Rezeki

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s