Pendidikan berkarakter itu…

Di tengah gembar-gembor ‘pendidikan berbasis karakter’, rupanya sudah banyak orang bahkan instansi pendidikan yang latah dengan istilah tersebut. Saat ini kita bisa dengan mudah mendapati sekolah dan pondok pesantren yang menyematkan kata ‘pendidikan berbasis karakter’ untuk menarik minat calon murid. Ada pula istilah manajemen sekolah berbasis karakter, kemudian diklat pendidik berkarakter, bangsa berkarakter, pemimpin berkarakter, dan masih banyak lagi ‘karakter-karakter’ lain yang jika digunakan seolah mampu menaikkan mutu dari penggunanya. Tren pendidikan berbasis karakter ini terlahir dari kebutuhan para orangtua yang tengah mencari metode terbaik dalam mendidik anaknya dengan harapan tidak sekedar pintar tapi juga mempunyai karakter.


Mendapatkan karunia berupa seorang anak bagaikan mendapat ‘proyek’ luar biasa. Bisa disebut ‘proyek’ karena memiliki anak adalah suatu pekerjaan yang harus digarap dan diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Kalau proyek lain datangnya dari atasan atau bos, maka proyek mendidik anak ini datang dari Sang pencipta makhluk dan alam semesta. Seperti halnya sebuah proyek yang tergantung pada pelaksananya, maka sama halnya dengan seorang anak yang bisa menjadi Nasrani atau Majusi dengan sebab orangtuanya yang tidak beriman. Kita tentu tidak bisa berpangku tangan dengan mengatasnamakan takdir, ‘toh kalau anak kita ditakdirkan menjadi anak sholeh pasti dia akan tumbuh menjadi anak sholeh’. Pernyataan seperti itu tentu salah besar dan hanya keluar dari lisan orangtua yang frustasi dan putus asa. Manusia diberi kesempatan oleh Allah untuk berusaha, maka kita tidak boleh menyia-nyiakannya. Continue reading